Minggu, 21 September 2014

FOTO

Kodok Indonesia ke Meja Makan di Perancis

BOGOR, KOMPAS.com - Pengunjung restoran di Perancis mungkin tidak tahu bahwa kodok yang mereka makan berasal dari area persawahan dan rawa keruh di Indonesia, yang ditangkap oleh para pemburu kodok saat malam hari lalu dijual dan disembelih di pasar lokal.

Sri Mulyani, 41 tahun, seorang pedagang kodok di Pasar Pagi Bogor, Jawa Barat, menguliti kodok, mengeluarkan jeroan dengan tangan telanjang. Ekor per ekor dia lakukan terhadap binatang amfibi tersebut. "Saya tidak merasa jijik dengan kodok, saya hanya berpikir tentang uang," katanya kepada AFP. Mulyani dan pemburu kodok yang juga suaminya Suwanto, 48 tahun bisa mendapatkan uang Rp 500 ribu per hari (melebihi upah minimum regional). Mereka memburu dan menjual kodok ke restoran atau perantara untuk ekspor.

Di sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti di Purwodadi, Demak, dan Semarang, masakan kodok disebut swike yang sangat khas dan digemari. Masakan dihidangkan dalam bentuk sup, digoreng kering, ditumis, bahkan ada yg telurnya dipepes.

Swike dapat dijumpai di restoran hingga warung-warung di perkampungan. Pemburu mensuplai kodok dalam jumlah besar yang mereka cari di persawahan dan rawa.

Eksportir terbesar

Indonesia telah menjadi eksportir kodok terbesar di dunia, menyediakan lebih dari 80 persen impor Eropa. Sebagian besar kodok ditangkap di alam liar oleh pemburu kodok seperti Suwanto.

Kalangan konservasionis prihatin dengan perdagangan kodok tersebut karena dapat memusnahkan populasi kodok tertentu yang membantu menjaga ekosistem. Berudu juga membantu menstabilkan lingkungan perairan.

Sebagian besar permintaan berasal dari Perancis, dengan perkiraan 80 juta ekor kodok dikonsumsi setiap tahun. Perancis pada tahun 1980 telah dipaksa melarang komersialisasi kodok liar buruan dan kodok ternak.

Perdagangan bergerak terutama dari India dan Bangladesh, tetapi negara tersebut juga telah melarang ekspor di akhir tahun 1980 karena populasi kodok secara drastis menurun.

"Kami khawatir hal itu dapat membuat populasi kodok hilang selama bertahun-tahun, setidaknya kodok bertubuh besar di Indonesia akan kolaps," kata Sandra Altherr dari kelompok Pro Wildlife Jerman, yang turut menulis laporan tentang perdagangan katak tahun lalu. "Sejarah telah memberi kita pelajaran dan kami harus belajar dari itu."




Stok images, foto news dan royalty free Indonesia. Silakan klik untuk melihat lebih banyak lagi.