Sabtu, 20 Desember 2014

FOTO

Harimau Sumatera Terus Mengalami Kematian

KOMPAS.com - Seekor harimau sumatra (Pathera tigris sumatrae) betina bernama Melani, kini sedang sakit dan didiagnosis mengalami gangguan pencernaan di Kebun Binatang Surabaya (KBS), Rabu (17/4/2013).

Pihak KBS mengatakan bahwa harimau berusia 15 tahun ini berada dalam kondisi kritis menyusul kematian harimau lainnya awal bulan ini di fasilitas yang menghadapi banyak masalah itu.

"Melani mengalami masalah pada sistem pencernaan sejak empat tahun lalu, kondisinya sempat membaik namun sekitar dua tahun ini sakit lagi, sehingga terlihat kurus," kata head cepper mamalia M Rofi'I. Berat tubuh Melani sempat turun drastis dari 110 kilogram menjadi di bawah 60 kilogram.

Kebun Binatang Surabaya saat ini memiliki 3 ekor harimau Sumatra jantan dan 7 harimau sumatra betina. Pada 4 April, seekor harimau jantan berusia 13 tahun bernama Rozek mati karena sakit paru-paru. Sebelumnya, Agustus 2010, harimau sumatera betina bernama Martina (19) juga ditemukan mati.

Konflik dengan manusia

Harimau sumatera yang kini berstatus Terancam Kritis adalah satu-satunya subspesies harimau yang masih tersisa di Indonesia setelah punahnya harimau bali pada 1930-an, serta harimau jawa sejak 1980-an.

Harimau sumatera hidup di hutan tropis dataran rendah hingga pegunungan, rawa-rawa bakau, dan semak-semak. Hanya hidup di Sumatera dan tersebar di sembilan dari sebelas taman nasional di Sumatera.

Harimau terancam akibat kerusakan habitat, perambahan hutan, perluasan perkebunan kelapa sawit, hingga perburuan liar untuk mengambil kulit loreng serta bagian tubuhnya. Berdasarkan data Kompas, jumlahnya kini hanya 400-500 ekor di alam bebas dan 232 ekor di penangkaran atau kebun binatang.

Sepanjang 1996-2004 telah terjadi lebih dari 152 konflik dengan manusia akibat rusaknya habitat harimau. Ratusan harimau terbunuh, 25 orang tewas, puluhan terluka parah, dan ribuan ternak dimangsa. AP, SURYA, KOMPAS