Senin ,15 Juni 2015

Foto

Senin, 13 Februari 2017

Tatung, Lebih dari Sekadar Ritual Cap Go Meh

SINGKAWANG, KOMPAS.com - Bagi masyarakat Tionghoa di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, perayaan Imlek untuk menyambut tahun baru China merupakan tradisi termegah yang selalu dirayakan seluruh lapisan masyarakat. Imlek dirayakan selama lima belas hari berturut dengan puncak perayaan yang dikenal dengan Cap Go Meh. Tahun ini, puncak perayaan Cap Go Meh 2568 jatuh pada hari Sabtu, 11 Februari 2017.

Puncak perayaan Cap Go Meh bertujuan untuk menangkal gangguan atau kesialan pada masa mendatang. Pengusiran roh-roh jahat dan peniadaan kesialan dalam Cap Go Meh disimbolkan dalam pertunjukan atraksi Tatung.

Tatung adalah media utama Cap Go Meh. Atraksi Tatung dipenuhi dengan mistik dan menegangkan, karena banyak orang kesurupan dan orang-orang inilah yang disebut Tatung. Upacara pemanggilan tatung dipimpin oleh pendeta yang sengaja mendatangkan roh orang yang sudah meninggal untuk merasuki Tatung.

Roh-roh yang dipanggil diyakini sebagai roh-roh baik yang mampu menangkal roh jahat yang hendak mengganggu keharmonisan hidup masyarakat. Roh yang merasuki tubuh tatung diyakini merupakan para tokoh pahlawan dalam legenda Tiongkok, seperti panglima perang, hakim, sastrawan, pangeran, pelacur yang sudah bertobat dan orang suci lainnya.

Untuk menjadi Tatung, bukan diperoleh dengan cara yang mudah. Tatung bukan warisan yang sengaja diturunkan. Menurut salah satu tatung Singkawang, Ajung (65),bakat menjadi tatung datang dengan sendirinya dan tidak bisa ditolak. Menjadi seorang tatung bagi Ajung banyak tantangan yang harus dihadapi, termasuk dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Di Singkawang, atau Kalimantan Barat pada umumnya, banyak orang yang bukan keturunan Tionghoa turut serta menjadi Tatung, salah satunya dari masyarakat Dayak. Mereka terdorong berpartisipasi karena ritual Tatung ada beberapa yang mirip dengan upacara adat Dayak.

Konon kisahnya, sejak pertama kali datang ke Singkawang masyarakat Tionghoa telah menjalin persahabatan erat dengan penduduk pribumi khususnya suku Dayak. Untuk itulah, tidak ada kecanggungan di antara kedua etnis ini.

Pada masa Orde Baru, perayaan Imlek, khususnya ritual Tatung dilarang dipertontonkan di depan umum. Semenjak era reformasi, mantan Presiden ke-4 RI, Abdurachman Wahid mengizinkan kembali pagelaran perayaan Imlek dan Cap Go Meh. Bahkan pemerintahan berikutnya mengesahkan dalam bentuk undang-undang. 

Sehari sebelum puncak acara atau hari ke-14, para tatung turun ke jalan berkeliling melaksanakan ritual bersih kota untuk tolak bala dan menghindarkan dari marabahaya serta aura negatif. Dalam dunia pariwisata, Tatung berpotensi untuk menarik turis dalam negeri dan mancanegara. Selain mengangkat nama Singkawang dan Indonesia di dunia internasional, Tatung juga ikut meningkatkan perekonomian daerah setempat. YOHANES KURNIA IRAWAN

Editor : Roderick Adrian