Senin ,15 Juni 2015

Foto

Selasa, 21 Maret 2017

Menjenguk Harapan, Badak Sumatera Kelahiran Amerika

LAMPUNG TIMUR, KOMPAS.com - Harapan namanya, Badak sumatera jantan bercula dua yang berumur 10 tahun terlihat nyaman bermain dan sesekali memakan dedaunan sekitar kandangnya di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Provinsi Lampung, Senin (20/3/2017). Harapan telah tinggal sekitar satu tahun lebih di Way Kambas.

Meskipun merupakan spesies asli sumatera, Harapan lahir di Cincinnati Zoo, Amerika Serikat pada tahun 2007 dari pasangan Emi dan Ipuh. Harapan memiliki dua saudara, masing-masing Andalas (badak jantan) dan Suci (badak betina) yang semuanya sama-sama lahir di Cincinnati.

(baca juga: Harapan, Badak Sumatera yang Mencari Jodoh)

Harapan, Membutuhkan setidaknya waktu dua tahun untuk dapat beradaptasi dengan cara hidup barunya di hutan tropis, terutama dari sisi pakannya. Badak yang terbiasa diberi makanan yang berbeda di kebun margasatwa, saat dikembalikan secara perlahan dikembalikan dengan makanan asli yang berasal dari vegetasi hutan yang ada di lingkungan taman nasional.

“Sampai saat ini, Harapan baik-baik saja. Habitat lingkungan dan suasananya nyaman. Disini kita melakukan pemantauan 24 jam penuh termasuk pengecekan darah, urine, dan fesesnya. Bila tidak ada kelainan Harapan akan terus bertumbuh dengan sehat.” kata Dokter Zulfi Arsan, salah satu dari ketiga dokter yang merawat seluruh badak termasuk  Harapan.

Badak sumatera merupakan satwa sangat langka dan dilindungi di dunia. Yayasan Badak Indonesia pernah merilis, dalam 10 tahun terakhir, populasi badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) mengalami penurunan hingga 50 persen. Oleh karena itu kepulangan badak yang diberi nama Harapan ini  diharapkan dapat memberikan kelestarian dan upaya sukses konservasi badak sumatera.

Harapan, diharapkan akan mampu meneruskan generasi badak di masa yang akan datang sebagai pejantan. "Jumlah populasi badak sumatera di dunia teramatlah sedikit yang tersebar di empat kantong, yaitu Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Gunung Leuser, dan Taman Nasional Kutai, diperkirakan hanya tinggal sekitar 70 sampai 100 individu saja", tutup Dokter Zulfi Arsan. GARRY ANDREW LOTULUNG

Editor : Roderick Adrian
*/?>